Djayadi hadir untuk memaparkan temuan survei SMRC yang membandingkan jaman reformasi dan Orde Baru di bawah Soeharto. Hasil survei yang dilakukan 1-10 April 2013 menunjukkan mayoritas responden (57,7 persen) menyatakan demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik, sementara 48,2 persen menyebut era Soeharto sebagai era otoritarian.
Kalau jadi presiden saya tertarik, kalau yang lainnya tidak. Kalau disuruh jadi menteri, sudah tiga kali saya jadi menteri. Waktu jadi Menteri Kehakiman banyak perubahan saya buat. Kan KPK, PPATK dan segala macam itu dibuat pada zaman saya. Bisa memisahkan pemerintahan dari pengadilan, lebih independen segala macam. Tapi pada akhirnya saya tahu masalah utama negara ini sebenarnya adalah ketidakadilan dan kepastian hukum. Itu core masalahnya.
Semua ada. Semua bagus-bagus, tapi hanya bagi yang punya uang. Kalau yang tidak punya uang, ya nonton saja. Ini seperti mal yang menjamur di mana-mana. Tampilannya mewah. Tapi rakyat hanya bisa datang untuk ngadem saja, karena AC-nya dingin. Saya tidak mau Indonesia kayak begini.
Keterlibatan asing memang tak terhindarkan. Tapi dominasinya mesti berkurang, dan harus nyata berkurangnya. Misalnya, kalau dulu dominasinya 90 persen, sekarang harus sekitar 40-30 persen. Tapi dalam soal ini, ada satu catatan penting. Untuk ke depan, pembicaraan semacam ini bisa jadi tidak lagi relevan. Di dunia modern, hal-hal semacam ini sudah tidak dipersoalkan lagi.
“Hanya Tuhan yang bisa mengantar Aburizal Bakrie Menjadi Presiden.” Pernyataan ini dilontarkan Andrinof Chaniago, pengamat politik dari Universitas Indonesia yang juga adalah direktur eksekutif Cirus Surveyors. Ia diminta redaksi Indonesia 2014 berkomentar tentang gencarnya kampanye untuk Aburizal sejak awal tahun serta hasil terakhir sebuah survei yang—secara mengejutkan—memberi kesan tentang besarnya dukungan publik terhadap nama sang ketua umum Golkar.